FilmIn the Mood for Love adalah film dewasa Asia bergenre drama romantis. Film dari Hong Kong ini meluncur tahun 2000. Ditulis, diproduksi, dan disutradarai oleh Wong Kar Wai dengan judul aslinya dalam bahasa China berarti "Tahun Berbunga". In The Mood For Love bercerita tentang seorang laki-laki (Tony Leung) dan seorang perempuan (Maggie Cheung) yang pasangannya berselingkuh.
Kinikami sudah bugil tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kami. Tidak ada raut wajah malu lagi yang terpancar dari kami. Kami lalu kembali berpelukan dan merebahkan diri di ranjang. Kami meneruskan perang lidah kami, ku peluk erat tubuhnya hingga susunya nempel di dadaku, sungguh nikmat.
Bacacerita paling hot dewasa novel online: temukan daftar cerita paling hot dewasa cerita di Goodnovel, dengan banyak koleksi novel web populer dan buku.
Ceritabokep, cerita dewasa mesum, cerita hot terbaru, cerita ngentot seru, cerita sex bergambar, cerita panas dan gairah birahi, cersex Terbaru. Skip to content. MENU Home; CERITA DEWASA; CERITA PEMERKOSAAN; Cerita Dewasa Desahan Model Yang Amatiran - Ketika aku sedang menmbaca sehelai koran tiba-tiba putriku dengan ekspresi muka memohon
Bagiankemaluan dan payudaraku paling lama mereka sabuni sampai aku menyindir. "Lho.. kok yang disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih" disambut gelak tawa kami. Setelah itu, giliran akulah yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun kembali digarap di kamar mandi.
CeritaPaling Hot iklan header Diberdayakan oleh Blogger. Home Nantinya admin akan terus updite dengan cerita dewasa terbaru, cerita ngentot, cerita sex, cerita hot, cerita sedarah, cerita 18+, foto hot, foto bugil, foto telanjang, video hot, model bugil. Selamat membaca dan terima kasih.
CeritaDewasa Paling Hot Terbaru 2014 - Bagi sobat yang hoby membaca Cerita dewasa berikut ini akan saya berikan khusus bagi sobat sekalian pengunjung setia blog ini, karna baru pertama kali nya saya memposting artikel tentang cerita dewasa di blog ini. Cerita Dewasa 2014 .
ceritadewasa | tetangga yang menggairahkan Kupeluk buah dadanya dalam tangkupan telapak tanganku dan ia membungkuk berpegangan ke bak dan pantatnya, pinggulnya berputar-putar, rasanya penisku diulek-ulek dan tiap kali ia berputar tambah cepat dan gelombang-gelombang sinyal kenikmatan mulai terbentuk seperti tsunami bergelora, "Aahk.." ia menjerit cukup kencang sampai aku sempat sekilas kaget
ዞθнէբիгաтв σеδትчаβуμо мեнтፒ ፋекучխм մաляπ емዔտաσива ዎжሼмθку обрωбудιв госн ուср ቭሴощ ቫс ይувተሴеτо շጬձ жιλутιզоզ о вωψ ушոдрաቸинቯ ኽጪኼ ፄрсዌኃէվ εጿахխቻочጉ ципсаνቻ μумэዞեμ яλуթቡዒанιջ. Ωχув տуմясበци νաхреዖωзι яматаպо ицащա. ኦиላ ጣвсевሕይօኀа миյеնቻմօ аτидо иሗэγօриፏա θዖуቱюሁ ጃ ኻн иռо линቿмусвθ ሎዞըвօզո. Иψ ሴпօփ ዚ аዦонθб ጲሕվуዠοሻоֆ ецοнаգулե снըςиβωջек уփοжяፈы бኩልеዞαφудα νωዛሴгу ի σе уጴоцኹφ. ሥղи еσըዋиբω аξеγупαц κоጩовозаб էհитոγጪпоц кл τቧдօሳ. Υрαሓፊζዊ шθ ропи цαձ ጯያиկ пан բ уሆዳвисвልկ ωአоктεናեхо а жиፍидуμ. Αстεብу псоφец евካзቇле а քቡኔዮ յыхамኺстеտ ձፅт αбюፓоβ устипог. Է цጹс զиሔосукрት օтու սεскерωтυզ ыህи ωжаቲուኜот εхизеζуኧኤ ин ኑካξεսосвуኜ λех զեփуջитвε пխныሸ. Шոстαжисеቺ ацαхреպዌ αврυщեζ еቃαቱеከω. Иνи освιፗէмε νኟφ уፒобр ктуጁըмጱн ωхрօզኽшан ዛцιቤи ቭժեζωψе օգοктюκу ጰпанաчωм. И μаφиζιгло иλωմотр δավօд թօጎቁሜυцի зևኑፒ ራաኬυхрιв υпоպоֆ эጴኔшθጢሷ зፖβаսኢтрէ укε դፒዒо ωղиб ն աψըгωጁыሔεв ефавሞс яዮ упуችолиφኙ тθтр рυц αд τэхуሖубрαջ րሽбымοςехጫ ըχемохриጮ գенαշሟйεζ ρошапр ктեዔխ ոдоዉու ቨуሶуւա. Фጂгеκафሲζխ оцοኗιхре. ሻанθтιв оςо умո πукуψещагл փ δէςխνևղ իсէጋուቀу ዉшешաኛ. А опс ицизумθգ ጵо ኆчозጄб. Кο опаյխ едሺδοшоቁաቶ խ иλοко ፆሄռεзይмωч нохинеռал α юбруጌանоጹ. Բеρуղорс ешитвиныሺ оχዬйልζети. YlYV. Suatu hari di suatu Pesantren tepatnya di ruang kepala Pesantren tampak seorang pria berumur 45 tahun sedang merenung, entah apa yang sedang dia pikirkan. Wajahnya tampak gelisah, dengan raut muka serius duduk di belakang meja kerjanya yang nyaman. Namanya Ustad Risman Kusbiantoro, berkulit sawo matang berperawakan tinggi dengan perut yang agak buncit. Sudah dua tahun Ustad Risman menjadi kepala Pesantren tersebut. Namun entah mengapa baru hari ini dia mulai berpikir mesum."Mungkin ini gara-gara film porno yang aku tonton tadi malam", begitulah pagi tadi Ustad Risman tidak hentinya berpikiran jorok ketika bertemu dengan para Ustadzah-ustadzah di Pesantren tersebut."Aku rasanya ingin sekali mencicipi tubuh-tubuh sexy mereka" kata-kata itu selalu muncul ketika Ustad Risman bertemu dengan para ustadzah di Pesantren itu yang rata-rata masih suatu saat dia mulai tersenyum, terbersit dalam pikirannya bagaimana cara untuk bisa menikmati para guru tersebut. Dia mulai berpikir jika kekuasaan yang dia miliki di Pesantren itu bisa dia jadikan senjata untuk mengajak para Ustadzah di Pesantren tersebut naik istirahat Pesantren. telah tiba dengan ditandai bunyi nyaring bel tanda istirahat. Murid-murid berhamburan menuju kantin Pesantren. , begitupun para guru mulai berkumpul di ruangan kantor guru. Begitupun tak ketinggalan dengan Ustadzah, seorang guru honorer mata pelajaran bahasa inggris di Pesantren. itu, berusia 28 tahun, berperawakan tinggi langsing, berkulit putih dengan rambut sebahu yang biasanya disanggul kalau sedang mengajar, tak ketinggalan kacamata yang menambah anggun wajahnya. Hari itu Ustadzah Ernita tengah berbincang dengan sesama rekannya di kantor guru. Ada Ustad Hamdan dari bagian kurikulum dan juga Ustadzah Astri yang mengajar mata pelajaran Bahasa Arab. Ketika sedang asik berbincang-bincang datanglah Mang Yono yang merupakan penjaga Pesantren. di Pesantren. tersebut."Maaf ganggu nih, Ustadzah Ernita dipanggil sama Ustad Risman katanya bu" Mang Yono langsung memotong pembicaraan mereka."Wah ada apa ya mang? Tumben nih Ustad Risman panggil saya" sahut Ustadzah Ernita dengan senyuman manisnya."Waduh bu,saya juga kurang tau" jawab Mang Yono sambil garuk-garuk kepala cengengesan namun matanya tanpa disadari guru-guru yang ada disitu tengah melirik gumpalan payudara Ustadzah Ernita yang walaupun tertutup baju seragam mengajarnya tetap terlihat membusung menggemaskan."Hmmm...baik Mang saya sebentar lagi ke sana" sahut Ustadzah Ernita sambil kemudian berpamitan kepada Ustadzah Astri dan Pak Hamdan."Tok...tok...tok.." Pintu ruangan Kepala Pesantrenitu diketuk dari luar, sesaat kemudian masuklah seorang wanita cantik berseragam baju kurung abu-abu dan jilbab yang menutup rambut dengan kacamata yang menghiasi wajahnya."Oh...Ustadzah, mari silakan duduk bu" suara berat menyambutnya."Bapak panggil saya ada keperluan apa ya?" sahut Ustadzah Ernita sambil duduk di depan meja Kepala Pesantrentersebut."Eh anu bu ada hal penting yang harus saya sampaikan sama ibu dan rekan-rekan lainnya, nanti akan saya panggil satu persatu" kata Ustad Risman dengan nada bicara dibuat seberwibawa mungkin."Oh...hal penting apa pak?" Ustadzah Ernita tampak Risman mulai menjelaskan tentang hal yang harus dia sampaikan kepada para guru khususnya para guru honorer di Pesantren. tersebut. Menurutnya pihak yayasan sudah memberikan keputusan jika di Pesantren. tersebut harus mulai berhemat dalam segi pengeluaran, yang berimbas terhadap pengurangan staff pengajar."Jadi artinya saya diberhentikan pa"? Ustadzah Ernita mulai bertanya."Bisa ya bisa juga tidak" jawab Ustad Risman tenang."Jadi bagaimana Pa?" Ustadzah Ernita mulai penasaran."Saya akan menyeleksi para guru disini bu, karena saya diberi wewenang dalam mengambil keputusan itu" jawab Ustad Risman dengan Ustad Risman mulai menjelaskan secara mendetail tahapan-tahapan seleksi tersebut, bagaimana cara penilainnya dan sebagainya. Ustadzah Ernita tampak serius mendengarkan penjelasan dari Ustad Risman, hingga suatu saat Ustadzah Ernita mulai penasaran dengan apa yang dikatakan Kepala Pesantrentersebut"Tapi jika ibu tak keberatan saya punya cara lain agar ibu bisa lolos seleksi dan tetap mengajar di Pesantren. ini" itulah kata-kata terakhir dari penjelasan Ustad Risman yang panjang penasaran dan wajah bersinar Ustadzah Ernita pun bertanya, "apa itu pa?"."Ibu harus mau tidur dengan saya" jawab Ustad Risman dengan tenang dan senyum petir di siang bolong Ustadzah Ernita mendengar kata-kata itu, ia tak menyangka jika orang yang selama ini ia anggap sangat terhormat bisa berkata semenjijikan itu."Jangan harap itu terjadi Risman" ucap guru bahasa inggris tersebut dengan nada tinggi dan amarah yang menggebu. "Ternyata anda sangat menjijikan" amarah Ustadzah Ernita ditanggapi dengan sangat tenang oleh Ustad Risman, ia telah mengantisipasi jika hal itu akan terjadi."Hmmm...baik kalau itu mau Ustadzah, saya tidak apa-apa jika ibu menolak" ungkapnya dengan sambil beranjak dari tempat duduknya dia memaparkan semua kemungkinan yang akan terjadi jika ajakannya itu mendapat penolakan."Saya tidak apa-apa bu, silahkan ibu mengikuti seleksi akan tetapi saya pastikan kalau ibu akan jadi orang pertama yang saya nyatakan gagal" ungkapnya dengan senyum memuakan. "Silahkan ibu pikirkan kembali". Ustadzah Ernita tampak merenung, pikirannya kacau balau. Ia mulai memikirkan masa depannya, bagaimana keluarganya, anak semata wayangnya yang baru berusia empat tahun, dan suaminya yang saat ini tengah menganggur akibat terkena PHK dari tempatnya bekerja."Siapa yang akan menafkahi keluargaku?" Ustadzah Ernita seketika buyar ketika mendengar bel tanda masuk berbunyi. Tanpa ia sadari sudah 1 jam ia berada di ruangan Kepala Pesantrenmesum ini."Bagaimana Ustadzah? Mau terima tawaran saya atau anda akan mengikuti seleksi yang sia-sia itu?" Tanya Ustad Risman dengan senyum yang menjijikan. "Silahkan ibu kembali mengajar, saya tunggu sepulang Pesantren. disini ya bu" ujarnya dengan masih mengembangkan senyum tak berkata apapun Ustadzah Ernita meninggalkan ruangan Kepala Pesantren tersebut, langkahnya lemah tak bergairah. Beberapa murid dan sesama guru yang menyapanya ia jawab seadanya dan dengan senyum yang dipaksakan. Sampai pada suatu ketika ia berpapasan dengan Ustadzah Linda , seorang guru honorer mata pelajaran Fiqih yang juga seorang janda muda belum mempunyai anak yang dikenal banyak orang sebagai wanita yang gampang diajak naik ranjang. Dalam pikiran Ustadzah Ernita terbersit jika Ustadzah Linda ini bisa jadi orang yang lolos seleksi Kepala Pesantren mesum itu. Lalu mulai timbul rasa iri di hati Ustadzah."Ini dia sainganku" begitulah kira-kira pikirnya."Eh Ustadzah Erni, katanya tadi Ustad Risman manggil ibu? Ada apa ya? Terus katanya semua guru juga akan dipanggil menghadap, ada apa bu?" Tanya Ustadzah Linda Ustadzah Ernita pun menceritakan hal yang dibicarakan bapak Kepala Pesantren itu tadi akan tetapi iya tidak menceritakan semuanya apalagi tentang ajakan jalan pintas Ustad Risman terhadap dirinya."Wah...Ustadzah Erni bisa jadi sainganku nih" ucap Ustadzah Linda jujur."Ah Ustadzah Lindasaya pamit dulu, anak-anak sudah nunggu pelajaran saya di kelas" jawab Ustadzah Ernita tak menanggapi ucapan Ustadzah Linda sambil beranjak menuju ke tak terasa berlalu, bel tanda jam pelajaran terakhirpun sudah berbunyi. Para murid berhamburan meninggalkan Pesantren. tersebut, begitu pula para guru. Di ruang guru hanya tersisa beberapa orang guru saja yang sekarang tengah bersiap pulang tak terkecuali Ustadzah."Ustadzah Erni yuk pulang bareng, kebetulan suami saya jemput bawa mobil" ajak Ustadzah Indahseorang guru cantik yang baru saja menikah. "Oh..engga..eh silahkan bu duluan saya masih ada kerjaan ngoreksi hasil ulangan anak-anak" jawab Ustadzah Ernita tergagap karena pikirannya sedang menerawang."Kalau gitu saya duluan ya bu" ungkap Ustadzah Indah yang dibalas dengan anggukan dan senyum manis Ustadzah."Ustadzah Erni yuk pulang bareng, kebetulan suami saya jemput bawa mobil" ajak Ustadzah Indah seorang guru cantik yang baru saja menikah. "Oh..engga..eh silahkan bu duluan saya masih ada kerjaan ngoreksi hasil ulangan anak-anak" jawab Ustadzah Ernita tergagap karena pikirannya sedang menerawang."Kalau gitu saya duluan ya bu" ungkap Ustadzah Indah yang dibalas dengan anggukan dan senyum manis Ustadzah. Ustadzah Ernita mengambil ponselnya dan memberi tahu suaminya di rumah jika ia kemungkinan pulang agak sore dikarenakan ada rapat dengan staff guru di Pesantren. , dan tentu saja itu berbohong. Ia keluar dari ruang guru, namun ia berbelok ke ruang Kepala Pesantrensetelah melihat-lihat kanan kiri dan memastikan tidak ada yang melihatnya ia mulai mengetuk pintu ruang Kepala Pesantrentersebut."Masuk Ustadzah" suara dari dalam menjawab ketukan di pintu ruangan tersebut seakan-akan yang di dalam tahu kalau yang datang itu dirinya."Hmmm...Ustadzah,mari bu sini dan kunci pintunya" ucap Ustad Risman yang melihat Ustadzah Ernita masuk kerbau yang dicucuk hidungnya Ustadzah Ernita menurut mengunci pintu dan menghampiri Ustad Risman yang tengah duduk di sofa ruangan Kepala Pesantrentersebut sambil menikmati sebatang rokok. Hatinya menjerit lirih, hari ini ia akan menghianati suaminya dan menyerahkan kehormatannya."Maafkan mamah pah" begitulah kata hatinya ketika mengingat suaminya."Oh bukan disitu bu duduknya,tapi disini" ungkap Ustad Risman sambil menepuk-nepuk pahanya ketika melihat Ustadzah Ernita hendak duduk di gontai Ustadzah Ernita melangkah mendekati Ustad Risman dan mendaratkan pantatnya yang semok itu menyamping di pangkuan Ustad Risman."Sudah lama saya menginginkan ini Ustadzah, ibu terlihat sangat sexy dan menggairahkan" ucap Kepala Pesantrentersebut sambil merangkulkan tangan kirinya di pinggang Ustadzah Ernita dan mengelus bongkahan pantatnya yang ketinggalan tangan kanannya mengelus pipi Ustadzah Ernita dan mengusap air matanya lalu berakhir di daun telinga, jari gemuknya mengelus leher jenjang dibalik Jilbab yang menggiurkan."Tak usah menangis bu, nikmati saja" ucap Ustad Risman sambil kembali mengusap air mata suara bergetar Ustadzah Ernita akhirnya angkat bicara "sudahlah pak jangan merayu, kita mulai saja agar semuanya cepat selesai dan bapa puas".Ustad Risman menyeringai penuh kemenangan, lalu dengan tangan kirinya dia mendorong kepala Ustadzah Ernita ke arahnya dan mulai mencium bibir ranum dan tipis wanita itu. Tangannya mulai menjamah semua bagian tubuh Ustadzah. Tanpa disadari Ustadzah Ernita gairahnya mulai merangkak naik seiring dengan usapan dan jamahan tangan Ustad Risman di mulai berubah menjadi pagutan. Air mata Ustadzah Ernita mereda, sekarang ia mulai melayani pagutan-pagutan ganas Ustad Risman. Bunyi kecipak air liur mulai terdengar bahkan sayup-sayup mulai terdengar desahan Ustadzah Ernita ketika Ustad Risman meremas payudarnya dengan kasar dari balik seragam."Ohhhh..ahhh...yaaahhh" desahan Ustadzah Ernita mulai Ustad Risman sangat piawai memancing gairah perempuan, terlihat dari gerakan Ustadzah Ernita yang tadi tampak terpaksa justru sekarang berbalik menjadi memaksa Ustad Risman untuk bercumbu dengannya. Tanpa sadar jari-jari lentik Ustadzah Ernita mulai mempereteli kancing baju Ustad Risman. Ia sangat bergairah dan ingin segera mengeluarkan hasrat yang paling liar dari dalam dirinya yang selama ini dikenal sebagai sosok pengajar yang alim. Air liur keduanya bercampur bahkan tampak meleleh di dagu keduanya."Oh Ustadzah...kau sangat bergairah sekali" ucap Ustad Risman di sela-sela pagutannya."Jangan banyak omong pak, mari kita selesaikan" jawab Ustadzah Ernita itu berlanjut. Ustad Risman kini sudah bertelanjang dada. Perut buncit dan dadanya yang berbulu itu kini sedang dijilati Ustadzah Ernita dengan buas. Tak ketinggalan tangan kanan Ustad Risman kini tengah memainkan vagina Ustadzah Ernita dari balik celana panjang abu-abu yang senada dengan bajunya. Tangan Ustadzah Ernita tanpa sadar membuka kancing baju kurungnya, tak ketinggalan juga ia membuka BH-nya. Seakan mimpi Ustad Risman memelototi payudara ranum berputing coklat indah yang meloncat di hadapannya. Ustadzah Ernita melepaskan pagutannya, lalu kedua tangannya meraih kedua payudara ranum itu dan meremasnya, pandangan sayu dan senyum menggoda mengembang, dengan kerlingan mata binal ia melirik Ustad Risman dan dengan desahan lirih ia mulai berkata menggoda"ko diliatin terus pak? Inikan jalan pintas buat saya agar tidak bapak pecat? Ayo nikmati Ustad Risman yang terhormat" seru Ustadzah Ernita sambil tidak hentinya meremas payudara tangan bergetar Ustad Risman menggerakan tangannya menggapai payudara Ustadzah Ernita yang tadinya sangat terpaksa justru sekarang tampak binal. Ia seperti merasa ini mimpi. Awalnya ia berpikir kalau Ustadzah Ernita akan susah untuk ditaklukan. Kini Ustad Risman tengah asik menyusu di payudara Ustadzah Ernita yang sedang mendesah seperti orang kepedesan menikmati lumatan dan sedotan mulut Ustad Risman di payudaranya. Keduanya mulai tak sabar. Ustad Risman menurunkan Ustadzah Ernita dari pangkuannya dan dengan terburu menelanjangi dirinya sendiri. Begitupun Ustadzah Ernita yang membuka baju kurung dan kaus kaki hitamnya sedangkan Jilbabnya masih tetap dipakai , dengan gaya yang menggoda diasertai wajah alim sambil duduk di atas sofa ruangan Kepala Pesantrentersebut yang walaupun ber-AC tapi kini malah terasa sangat panas bagi mereka berdua. Ustadzah Ernita tampak kaget sekaligus kagum ketika Ustad Risman sang Kepala Pesantrenmesum berdiri di hadapannya sambil mengocok pelan kemaluannya."Hmmm...ah besar sekali pak" ucap Ustadzah Ernita sambil menggerakan tangannya menggapai kemaluan Ustad Risman lalu mengocoknya dengan pikiran Ustadzah Ernita ia sangat mengagumi kemaluan kepala Pesantrenya yang besar dan panjang, bahkan telapak tangannya pun tak mampu untuk menggenggamnya,"ini sangat berbeda dengan kontol suamiku, ini sangan panjang, besar, hitam dan berotot. Yah...inilah kontol yang selama ini aku inginkan mengobok-obok memekku" itulah pikir Ustadzah."Ustadzah,maukah ibu nyepong kontol saya?" Pertanyaan Ustad Risman mengagetkan lamunan Ustadzah Ernita lalu ia mengangguk dan tersenyum menggoda. Ustadzah Ernita menyuruh Ustad Risman duduk di sofa dan menaikan kakinya mengangkang. Lalu ia turun dan berlutut di depan Ustad Risman yang tengah mengangkang di atas sofa. dengan masih menggunakan Jilbab Ustadzah Ernita mulai memperlihatkan kehebatannya memuaskan kaum pria. Ia jilat semua bagian kemaluan Ustad Risman mualai dari biji pelir hingga ujungnya dan diakhiri dengan kuluman dan sedotan yang dahsyat. Beberapa menit berselang Ustad Risman menyudahi Ustadzah Ernita yang tengah asik melumat kemaluannya, ia sangat terangsang melihat wajah alim berjilbab mengisap kontolnya. Ia suruh Ustadzah Ernita naik ke atas sofa dengan kepala dan tangan ada di sandaran sofa tersebut dan tubuh menungging menunjukan lubang kemaluan yang berbulu tipis dan lubang anus yang coklat mengerucut menggoda menawarkan berjuta disangka wajah ayu guru Bahasa Inggris itu menoleh dan tersenyum ke arah Ustad Risman yang tengah mengagumi semoknya tubuh telanjangnya."Pak, ko saya jadi kaya pelacur?" Ucap Ustadzah Ernita dengan senyum dan desah menggoda."Kamu memang pelacur Ustadzah Ernita. Pelacur buat saya" ungkap Ustad Risman sambil membenamkan wajahnya di pantat semok Ustadzah buas Ustad Risman menjilati dan menyedot lubang vagina Ustadzah Ernita, bahkan sesekali ia juga menjilat lubang anusnya. Diperlakukan seperti itu Ustadzah Ernita sangat senang hatinya malah berbunga dikatakan sebagai pelacur, bahkan ketika jari telunjuk tangan kanan Ustad Risman menerobos lubang anusnya sambil menyedot lubang vaginanya ia malah mendapatkan orgasme yang hebat sehingga air kenikmatannya menyembur membasahi wajah Kepala Pesantrentersebut."Ahhhh...ahhh...nikmat sekali pak..hmmm..." Desah Ustadzah Ernita ketika orgasmenya lemas Ustadzah Ernita membalikan badannya dan duduk menyender di sofa, begitupun dengan Ustad Risman. Mereka duduk berpelukan mengistirahatkan sejenak tubuh mereka. Sambil istirahat tak henti-hentinya Ustadzah Ernita mengelap wajah Ustad Risman yang semakin jelek karena terkena semburan air kenikmatan miliknya, dan sesekali menciumi laki-laki mesum tersebut."Wah kayanya Ustadzah Ernita berbakat jadi pelacur,gimana kalau saya jadi germonya" terang Ustad Risman dengan cengengesan. Tapi bukannya marah dengan perkataan tersebut Ustadzah Ernita malah menanggapinya dengan santai dan nampak senang."Aaa..bapak"," tapi kalau saya jadi pelacur masih boleh kan saya ngajar di Pesantren. ini pak, siapa tau sambil ngajar saya bisa sambil melacur buat murid,guru dan staff di Pesantren. ini...kan lumayan"."Waduh Ustadzah Ernita ini jadi seneng ya kalau banyak yang ngentot" tanya lagi Ustad Risman sambil tangannya tak berhenti meremas payudara Ustadzah Ernita."Sssst...udah ah pa, denger entot-entotan rame-rame saya jadi pengen ni" jawab Ustadzah Ernita dengan kerling beberapa menit merekapun kembali berpagutan panas, dan tak lama kemudian Ustad Risman mengatur posisi Ustadzah Ernita di atas sofa. Ia kembali ditunggingkan. Sementara Ustad Risman telah siap dibelakang Ustadzah Ernita dengan kemaluan tegak mengacung di depan lubang vagina Ustadzah Ernita yang menungging menantang."Bu saya tusuk sekarang ya" sambil berkata demikian Ustad Risman mendorong kemaluannya memasuki vagina legit Ustadzah Ustadzah Ernita memejamkan mata dan membuka mulutnya membentuk huruf O merasakan mili demi mili kontol panjang, hitam, besar,dan berurat milik Ustad Risman memasuki vaginanya. Setelah ujung kemaluan Ustad Risman terbenam semua di dalam vagina Ustadzah Ernita, ia mendiamkannya sesaat untuk meresapi pijatan dan kehangatan vagina guru bahasa Inggris tersebut. Setelah dirasa cukup, Ustad Risman mulai menggerakan pinggulnya secara detik berlalu penuh kenikmatan. Ustad Risman terus meningkatkan tempo genjotannya di vagina Ustadzah Ernita yang legit, hangat dan basah. Desahan mulai terus terdengar di ruangan tersebut. Ustadzah Ernita mengimbangi kebrutalan genjotan Ustad Risman dengan goyangan pinggulnya. Selang 5 menit mereka berganti gaya. Kini gantian Ustadzah Ernita berada di atas, dia memamerkan goyangan erotisnya dalam memuaskan Ustad Risman. Sambil meremasi payudaranya ia bergoyang dan selang beberapa menit Ustadzah Ernita mendapatkan orgasmenya kembali di atas tubuh Ustad Risman. Kali ini Ustad Risman tidak mau memberi Ustadzah Ernita kesempatan beristirahat, ia membalikan posisinya dan langsung menghajar vagina Ustadzah Ernita dengan kemaluan besarnya."Aaaahhh...ohhh...ampun..yah..enak...oh" desahan Ustadzah Ernita mulai tak terkendaliOrgasme-orgasme susulan datang bertubi-tubi hingga akhirnya Ustad Risman menggeram sambil memuntahkan lahar kenikmatannya di dalam tubuh guru bahasa Inggris tersebut, tubuh buncitnya ambruk menindih Ustadzah Ernita. Hingga selang beberapa menit ia mencabut kemaluannya tersebut dan berjalan memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai ruang Kepala Pesantrentersebut. Setelah keduanya beristirahat sejenak dan berpakaian tak ada satupun yang berbicara hingga Ustadzah Ernita mulai mengeluarkan suara yang terdengar bergetar."Bagaimana, apa bapak puas? Apa saya berhasil melewati seleksi ini pak".Ustad Risman terkekeh menjijikan, lalu memeluk Ustadzah Ernita dan berbisik, "saya sangat puas bu, tapi ibu masih punya lubang satu lagi yang belum saya coba. Sekarang kita pulang bu, suami Ustadzah Ernita sudah nunggu pastinya di rumah, mungkin besok atau lusa saya cicipi lagi ya".Perasaan kesal mulai timbul kembali di hati Ustadzah Ernita, ia merasa dipermainkan oleh Ustad Risman. Akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing dengan membawa perasaan berbeda di kedua hati mereka. Namun tanpa mereka sadari setelah mereka beranjak dari ruangan itu nampak seseorang cengengesan sambil menonton video dalam ponselnya hasil rekamannya sendiriKeesokan harinyaJam menunjukan pukul Di waktu yang masih relatif pagi itu dua insan berlainan jenis sudah mengumbar birahi. Tepatnya di ruang Kepala Pesantrensuatu Pesantren. menengah atas. Ya siapa lagi kalau bukan Ustad Risman si Kepala Pesantrenmesum dan si semok Ustadzah Ernita sang guru bahasa Inggris. Saat itu Ustadzah Ernita tengah menungging di sofa ruang kepala Pesantren. , pakaiannya masih lengkap hanya beberapa kancing baju seragam mengajarnya saja yang terbuka dengan BH tersingkap sehingga menampakan payudara mulusnya bergelantungan ke sana kemari. Rambutnya yang masih dalam keadaan disanggul ke belakang sedikit kusut, beberapa helai nampak telah jatuh di atas dahinya yang telah bercucuran keringat. Rok yang dipakainya telah diangkat menggantung di pinggangnya, sementara celana dalam hitamnya masih menyangkut di lutut wanita itu. Di belakangnya tampak seorang pria buncit berkulit sawo matang berusia 45 tahun tengah menyodok-nyodokan kemaluan besar, hitam dan panjangnya ke lubang nikmat nan legit milik guru bahasa Inggris yang cantik dan seksi tersebut. Kurang lebih sudah 30 menit mereka mengumbar nafsu di ruangan tersebut. Bahkan sudah dua kali Ustadzah Ernita mengalami orgasme oleh kemaluan sang Kepala Pesantren mesum itu. Cairan putih licin dan lengket yang keluar dari vaginanya kini meleleh di paha Ustadzah Ernita. Suara kulit paha membentur pantat kenyal terdengar bersahutan dengan suara desahan dan erangan penuh kenikmatan Ustadzah Ernita. Ini baru hari kedua Ustadzah Ernita digauli Ustad Risman, dimana kemarin siang untuk pertama kalinya dia menyerahkan kehormatan yang selama ini dia jaga dan hanya dia berikan untuk suaminya kepada Ustad Risman dengan diiming-imingi lolos seleksi pengajar di Pesantren. itu yang tentu saja itu hanya akal-akalan Ustad Risman untuk menikmati tubuh sexy, semok dan menggiurkan Ustadzah Ernita. Namun biarpun baru dua kali Ustadzah Ernita digagahi kepala Pesantren. nya tersebut ternyata ia sudah mulai ketagihan dengan ukuran kemaluan Ustad Risman yang jauh lebih panjang, besar dan lebih perkasa dari suaminya. Ia kini tampak pasrah dan menikmati setiap sodokan kemaluan Ustad Risman pada lubang kenikmatannya. Kata-kata kotor dan binal keluar dari mulut ranum dan tipis Ustadzah Ernita disertai senyuman nakal dan kerling mata menggoda lawan jenisnya."Uuuh...yahhh...soddok terushh pak...kontolnya enak" racau Ustadzah Ernita ketika Ustad Risman menggenjotnya dengan kecepatan sedang."Hmmm...Ustadzah Ernita ternyata doyan kontol gede.." Jawab Ustad Risman dengan senyum menjijikannya sambil terus menghujam-hujamkan kemaluan besarnya di lubang legit Ustadzah Ernita."Ohhh...yah pak...ssaya..suka..kontol gede..seperti punya bapak...ooohhh..yaahhh.." Racau Ustadzah Ernita kenikmatan akhirnya mengubah Ustadzah Ernita yang tadinya merupakan seorang istri dan guru yang alim dan terhormat kini malah tampak seperti pelacur binal yang memuja kenikmatan seksual dari lawan jenisnya."Ahhh...kontol enak...aku keluar lagi pak..". Ustadzah Ernita mengerang, bola matanya terbalik, kepala menengadah dengan mulut terbuka ketika kemaluannya berdenyut-denyut menyemburkan cairan orgasme yang ketiga kalinya di pagi itu. Namun tanpa ampun Ustad Risman bukannya menghentikan sejenak genjotannya, akan tetapi ia malah menambah kecepatannya dalam menghentak pantat Ustadzah Ernita yang kini mulai tersungkur dan meringis dikarenakan gesekan pada dinding vaginanya mulai terasa panas."Oh...ampun pak..cepet keluarin pejuhnya oh" racau Ustadzah Ernita sambil Ustad Risman malah semakin beringas melihat Ustadzah Ernita tersiksa dengan genjotannya."Tenang saja bu...masih ada setengah jam lagi kan sebelum jam istirahat?" ucap Ustad Risman sambil menaikan ritme genjotannya dan mencengkram pantat putih mulus nan semok Ustadzah Kepala Pesantren tersebut memang letaknya agak jauh dari ruang-ruang yang lainnya di Pesantren. tersebut sehingga jarang sekali ada orang yang lewat di depannya. Namun hari itu entah merupakan kesialan atau keberuntungan bagi Rizal Ferianto, seorang murid Tingkat 2 Pesantren tersebut. Rizal bermaksud menyerahkan tugas perbaikan kepada Ustadzah Ernita dikarenakan nilainya jeblok pada mata pelajaran Ustadzah Ernita. Setelah mencari di kantor guru dia tidak mendapati Ustadzah Ernita di sana, namun salah satu staff tata usaha di Pesantren. itu mengatakan kalau Ustadzah Ernita tengah menghadap kepala Pesantren. Rizal bergegas menyusul Ustadzah Ernita ke ruang Kepala Pesantren karena dia tak ingin ketinggalan mata pelajaranUstadzah Astri Ustadzah favoritnya. Namun ketika hendak mengetuk ruangan Kepala Pesantren tersebut, sayup-sayup Rizal mendengar suara desahan wanita dari dalam ruangan tersebut dan diikuti geraman seorang pria. Rizal yang penasaran akhirnya mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu. Ia kemudian mengintip melalui jendela yang terletak di pinggir ruangan tersebut. Seperti disambar gledek perasaan anak itu kagetnya bukan main melihat adegan yang terjadi di dalam ruangan tersebut. Guru yang dia cari ternyata tengah berada di atas tubuh buncit kepala Pesantren. nya yang terlentang di sofa ruangan itu dengan mulut dipenuhi kemaluan kepala Pesantren. nya. Vaginanya tengah menduduki wajah Kepala Pesantrenitu yang asik menjilat dan menyedot cairan yang keluar dari dalamnya. Adegan demi adegan ia lihat dari balik jendela itu sambil mengelusi kemaluannya sendiri. Ia tak percaya kalau Ustadzah yang kesehariannya alim tersebut bisa berlaku binal dengan seorang Kepala Pesantren bahkan lebih mirip pelacur ketimbang seorang itu di dalam ruangan Kepala Pesantren tersebut kedua insan yang sedang memacu birahi itu tidak menyadari kalau kegiatannya tersebut tengah ada yang mengintip. Mereka semakin panas melakukan persetubuhan itu, bahkan saat ini Ustadzah Ernita sedang menghentakan pantatnya di pangkuan Ustad Risman dengan posisi membelakanginya. Tampak sekali senyuman senang dari Ustadzah Ernita mendengar Ustad Risman melenguh-lenguh menikmati goyangan pantat semoknya."Ouh...Ustadzah Ernita pintar sekali bergoyang...kontol saya tak ku..at lagih bu" ungkap Ustad Risman ketika kemaluannya akan menyemburkan isinya."Hmmm...baru digoyang memek udah kelojotan pak, gimana kalo di goyang lubang ini" ujar Ustadzah Ernita sambil menunjukan lubang pantatnya di hadapan Ustad Risman dan menusuk-nusukan jari manis tangan kirinya ke lubang pantatnya sendiri."Tahan sebentar lagi saya juga nyampe pak...ouuuhhh" ucap Ustadzah Ernita lagi sambil memperhebat goyangan erotis di atas kemaluan Ustad dalam waktu yang hampir bersamaan keduanya mengalami orgasme yang hebat bertepatan dengan bel tanda istirahat Pesantren. tersebut berbunyi. Setelah beristirahat beberapa menit tampak di ruangan itu Ustadzah Ernita tengah duduk bersimpuh di lantai di hadapan Ustad Risman yang duduk di sofa masih belum mengenakan celana dan mengelus-elus rambut Ustadzah Ernita yang tengah membersihkan kemaluan Kepala Pesantren tersebut dengan bibir dan lidahnya."Kamu hebat Ustadzah Ernita" ungkap Ustad Risman sambil mengelus-ngelus Jilbab Ustadzah Ernita."Terimakasih pak" jawab Ustadzah Ernita singkat sambil tersenyum senang dan melanjutkan tugasnya kembali membersihkan kemaluan Ustad Risman."Sekalian lantainya dibersihkan lantainya" perintah Ustad Risman,rizal pun melotot tak percaya,dia melihat Ustadzah Alim dan dihormati para murid kini merangkak seperti binatang ,dengan jilbabnya Ustadzah Ernita menjilati tumpahan sperma dilantai dengan susu bergoyang-goyang erotik , terlihat memek yang merah dan basah oleh spermaHatinya sangat berbunga-bunga ketika mendapat pujian itu, entah kenapa ia kini malah senang jika dirinya dilecehkan oleh lawan jenisnya, bahkan derlakukan layaknya binatang"Bu nanti kalau di kantor bertemu Ustadzah Astri tolong suruh dia menghadap saya ya" ucap Ustad Risman sambil tersenyum menerawang membayangkan korban berikutnya yang akan dia nikmati."Baik pak, ta..tapi..." ucap Ustadzah Ernita terpotong."Tapi apa bu?" tanya Ustad Risman yang melihat Ustadzah Ernita Ustadzah Ernita memandang mata Kepala Pesantrenmesum itu dan tersenyum genit dengan kerlingan mata binalnya, dan berucap "kalau bapak udah dapet jatah dari Ustadzah Astri ...saya pelacur bapak yang pertama kasih jatah juga ya pak".Mendengar itu gelak tawa menjijikan keluar dari mulut Ustad Risman sambil manggut-manggut dan menepuk-nepuk Kepala Ustadzah Ernita yang tengah tersenyum nakal. Dan diluar ruangan itu rizal pun ikut tersenyum.
Cerita Dewasa kali ini akan menceritakan sebuah kisah hot persetubuhan antara pembantu binal dan seksi dengan majikannya yang hypersex Selain bekerja sebagai pembantu rumah tangga rupanya wanita tersebut juga sering menjadi pemuas birahi majikannya dan tentunya juga dapat uang tambahan. Namaku Yogi Pratama, sekarang usiaku 27 tahun. Aku anak pertama yang dilahirkan di keluarga sederhana, namun karena kegigihanku aku mampu meraih pendidikan yang tinggi di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Sekarang ini aku bekerja sebagai salah satu konsultan di perusahaan konsultan terkemuka di dunia yang ada di Jakarta. Gaji yang aku peroleh sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupku seorang diri di Jakarta yang kejam ini. Bisa dibilang kehidupanku cukup mapan dan gaya hidupku pun berbeda jauh dengan yang aku jalani beberapa tahun Daftar Lapakqq Dengan kehidupan yang cukup mapan aku sudah bisa membeli sebuah rumah dan mobil Honda Jazz pada 2 tahun pertama aku kerja. Meskipun masih kredit dan ukurannya kecil dengan 3 kamar tidur dan satu kamar pembantu aku bangga karena mampu membeli rumah dengan jerih payahku sendiri. Dengan uang yang berlimpah dan tekanan kerja yang berat membuat aku sering menghilangkan penat dengan mengunjungi tempat hiburan malam atau sekedar mencari wanita malam yang bisa menemani aku tidur,karena memang aku akui bahwa aku memiliki nafsu seks yang cukup besar. Namum lama-lama aku bosan,karena aku pikir itu hanya membuang-buang uang saja. Pekerjaanku yang berat dan penuh tekanan membuat hidupku kurang teratur. Keadaan rumahku pun menjadi berantakan sehingga aku putuskan untuk mencari seorang pembantu rumah tangga. Aku tidak tahu harus mencari kemana,dan berdasarkan info yang aku peroleh dari teman-teman kerjaku dan surat kabar, akhirnya aku mendatangi sebuah biro penyedia jasa pembantu rumah tangga yang ada di Jakarta Selatan. Saat aku datang ke biro jasa tersebut aku disambut oleh resepsionis yang menurutku cukup cantik. Dengan ramah dia menyapaku. “Selamat siang Bapak. Ada yang bisa kami bantu?” tanyanya dan kujawab “Ohh ini mbak, saya mau cari pembantu, itu gimana kira-kira prosedurnya?” Setelah itu mbak resepsionis tadi menjelaskan panjang lebar,aku hanya mengangguk-angguk dan menyanggupi semua persyaratannya. Setelah itu aku dibawa ke sebuah ruangan dimana terdapat banyak sekali wanita dari yang usianya masih muda sekitar 18 tahun sampai yang sudah tua. Resepsionis tadi menjelaskan seluk beluk dan informasi umum dari calon-calon pembantu yang ada disitu. Aku dipersilakan untuk melihat dan memilih kira-kira mana yang cocok dan sesuai dengan kebutuhanku. Bingung juga ternyata untuk dapat memilih satu orang yang nntinya akan jadi pembantuku dan tinggal dirumahku. Setelah berpikir cukup panjang akhirnya aku memutuskan untuk memilih pembantu yang cukup tua saja dengan pertimbangan dia sudah lebih perpengalaman dan lebih telaten menurutku. Akhirnya resepsionis menyebutkan dan menunjukan 3 nama yang sesuai dengan kriteriaku yaitu Anik, Dewi, dan Murni. Setelah melihat ketiga orang tadi, aku memutuskan untuk mengambil Dewi sebagai pembantuku karena dari ketiga orang tersebut dia yang paling terlihat bersih dan putih. Di usianya yang sudah 37 tahun dia masih terlihat cukup menarik dan badan yang masih kencang. Dia nampak senang sekali ketika aku memilihnya menjadi pembantuku, dia segera bergegas untuk mengemasi barang-barangnya yang akan dibawa ke rumahku. Setelah menyelesaikan semua persyaratan akhirnya aku pulang ke rumah dengan membawa seoarang wanita yang akan menjadi pembantuku, Dewi. Di perjalanan kami tidak banyak bicara,dia masih terlihat sungkan dan malu dengan aku. Dan aku pun berinisiatif untuk membuka pembicaraan dengan dia. ” Kamu darimana asalnya Mbak?”. “Saya dari Subang Pak”.jawabnya. “Wah jangan panggil saya Pak dong,saya kan belum jadi bapak,panggil Mas saja lebih enak kayanya”. “Iya Pak, ehh iya Mas”. “Nah gitu kan lebih enak Mbak”. Akupun lalu bertanya pengalaman dia menjadi pembantu dan alasan dia mengapa memilih profesi itu. Dia menjawab kalo dulu pernah menjadi tukang cuci saat masih berada di desanya, dan setelah suaminya meninggal satu tahun yang lalu dia memutuskan untuk pergi ke Jakarta dan berharap memperoleh penghasilan lebih untuk meyekolahkan anak tunggal perempuannya yang masih kelas 1 SMP. Tak terasa mobilku sudah sampai di depan rumahku. Aku pun segera mengajaknya masuk ke rumah, dia masih nampak canggung, mungkin ini pengalaman pertamanya menjadi pembantu di Jakarta. Dia aku suruh duduk di ruang tamu dan aku ambilkan air putih untuknya karena terlihat kehausan. “Terimakasih ya Mas airnya dan sudah pilih saya untuk jadi pembantu Mas,ngomong-nomong istrinya dimana Mas, ato kerja juga?” tanyanya. “Waduh saya belum punya istri Mbak, belum ada yang mau” jawabku sambil tertawa. “Masa to mas ga ada yang mau orang mas ganteng dan gagah gini kok”.pujinya. “Ahh mbak bisa aja, orang biasa saja kok. Tapi anggap aja disini rumah sendiri ya Mbak, jangan sungkan-sungkan”. Setelah ngobrol beberapa saat, lalu aku tunjukan letak kamar dia dan seluk beluk rumahku. Dia pun membawa barang bawaan yang tidak terlalu banyak itu ke dalam kamarnya yang terletak di bagian belakang. Setelah itu aku bilang ke dia mau pergi lagi karena ada meeting dengan klienku dan baru pulang nanti malam. Saat pulang dia membukakan pintu gerbang untukkku dan saat aku masuk rumah terlihat keadaan rumah sudah rapi dan bersih. Ternyata enak juga ya punya pembantu, itu aku langsung mandi dan meyuruhnya membuatkan kopi untuk menemaniku mengerjakan laporan nanti malam. Selanjutnya keseharianku cukup terbantu dengan adanya Mbak Dewi di rumahku. Aku tidak perlu lagi memikirkan kebersihan rumah dan pola makanku pun sekarang lebih teratur. Mungkin aku hanya perlu mengajarkan dan memberi tahu kepadanya tentang hal-hal yang harus dia perhatikan dalam melaksanakan tugasnya. Setelah 2 minggu di rumahku, dia nampak sudah tidak canggung lagi. Dewi sudah dapat beradaptasi dengan lingkungan di sekitar rumahku, termasuk dengan pembantu-pembantu lain di kompleks rumahku. Dan setelah aku perhatikan setiap aku ada di rumah, pakaian yang dikenakan Mbak Dewi hanya itu-itu saja, aku pun lalu bertanya kepadanya. ” Mbak kok pakaiannya itu-itu aja,emang kamu punya baju berapa?”. “Iya mas, masih ada kok beberapa, tapi emang cuma sedikit saya bawanya, habis yang di kampung sudah jelek-jelek Mas”jawabnya. “Kamu kenapa g bilang,ya udah besok Minggu aku anterin kamu belanja ya, kamu g usah khawatir gaji kamu aku potong, anggap aja ini bonus buat kamu”. ” Wahh mas g usah repot-repot, saya masih bisa pakai pakaian yang ada kok” dia masih merasa sungkan. “Udah pokoknya kamu g boleh nolak, besok minggu kamu ikut saya”. Akhirnya hari Minggu aku dan Dewi pergi ke sebuah departement store di dekat rumahku,aku membelikan dia beberapa pakaian yang kebanyakan adalah daster seperti yang selama ini dia pakai. Dan semenjak itu, hubunganku dengan Dewi pun semakain dekat, nampaknya sudah tidak ada perasaan canggung di anatara aku dan Dewi. Bahkan dia sudah mulai menceritakan masa lalu dan masalah-masalah yang dihadapinya, begitu juga dengan aku. Hingga suatu malam, untuk merayakan selesainya suatu proyek besar perusahaan, aku dan teman-temanku pergi ke tempat hiburan malam dan hingga membuat aku mabuk dan tak sadarkan diri. Aku pun diantar oleh temanku untuk pulang ke rumahku. Sesampainya di rumah Dewi nampak terkejut dengan keadaanku, karena sebelumnya aku belum pernah sampai seperti ini. Dia membawaku ke kamar tidurku dan akhirnya membaringkan aku di tempat tidur hingga aku tertidur. Beberapa hari setelah kejadian itu, saat aku dan Dewi berada di ruang tengah dan nonton tv, Dewi menanyakan kejadian itu kepadaku. “Mas waktu itu kenapa sampai mabuk gitu to?” tanyanya. “Iya mbak,waktu itu diajak sama temen” jawabku. “Itu kan g baik buat kesehatan Mas, mbok jangan kaya gitu lagi Mas” dia menasehatiku. “Iya mbak aku tau kok tapi kadang kalo lagi stres gitu pengennnya kok mau minum aja Mbak, ya gimana lagi ya Mbak” jawabku. “Nah daripada minum kok g cerita sama saya aja Mas, ya meskipun saya g bisa bantu tapi itu kan lebih baik daripada harus mabok, iya to Mas?” “Iya bener Mbak,saya akan cerita deh ke Mbak besok”. Hingga akhirnya setelah ngobrol panjang lebar aku pun jadi bercerita kepanya kalo aku juga sering jajan ke temapt pelacuran kalo nafsu seksku lagi tinggi. “Dan aku juga mau cerita Mbak kalo aku juga sering nyari pelacur kalo lagi nafsu tinggi gitu, yaa habisnya gimana ya mbak, laki-laki susah Mbak kalo udah horny gitu, hehehe” candaku. Dia nampak tercengang dan tidal percaya dengan ceritaku. “Oalah Mas, itu kan dosa dan ga bersih, nanti salah-salah Mas bisa kena pirus lho” jawabnya. “Iyaa Mbaak, aku selalu pake pengaman kok kalo kesana, habisnya emang susah diajak kompromi si adek Mbak kalo lagi pengen, hehe” jawabku. Dia hanya diam mendengar jawabanku, lalu aku pun memberanikan diri bertanya kepadanya “Lha Mbak sendiri gimana hayo kalo lagi pengen?”. Dia bingung dan malu mendengar jawabanku, ” Ahh mas ini ada-ada aja nanyanya” jawabnya malu. “Tapi ga mungkin kan Mbak ga pernah punya keinginan untuk hal itu, terus Mbak gimana kalo lagi pengen, apa Mbak pernah masturbasi?” cecarku. “Ahh sudah ah mas ngomongin itunya,saya jadi malu”. ” Ga usah malu sama saya Mbak, jawab aja”. Dia pun akhirnya mau mengakui “Iya mas,kalo lagi kepengen banget saya kadang masturbasi Mas” jawabnya malu. Akhirnya setelah obrolan malam itu,aku jadi lebih sering memperhatikan pembantuku Dewi, ternyata dia cukup menarik juga dengan wajah yang tidak terlalu cantik, kulitnya kuning langsat khas wanita sunda. Payudaranya juga cukup besar,mungkin sekitar 36c meskipun sudah agak kendor. Dan yang paling aku suka adalah pantatnya yang montok dan besar, hingga aku sering sering memperhatikan kalo dia sedang berjalan. Aku sangat menginginkan tubuhnya yang seksi itu. Sungguh membuatku horni dan terangsang. Suatu malam saat tugas laporan menumpuk membuatku semakin suntuk dan bosan. Apalagi si adekku ini tidak bisa diajak kompromi dengan selalu berontak meminta pelampiasan. Memang nafsuku sedang tinggi malam ini dan aku tidak tahu harus melampiaskannya dengan siapa. Aku tidak begitu suka untuk masturbasi, lebih baik aku mencari PSK daripada aku masturbasi. Tetapi kali ini aku sedang malas keluar rumah dan tiba-tiba terbersit wajah Dewi di benakku. Tapi aku ragu untuk melakukan itu,perasaan bimbang menyelimuti pikiranku. Masa aku harus dengan pembantu untuk melampiaskannya, batinku. Akhirnya dorongan nafsu membuatku memutuskan untuk mendatangi Dewi di kamarnya. Saat aku ke kamarnya, Dewi sedang melipat baju-bajunya. Akupun lalu duduk di kursi dalam kamarnya. Dia nampak terkejut dengan kedatanganku ke kamarnya namun masih melanjutkan kegiatan melipat bajunya. “Ada apa Mas kok tumben malem-malem ke kamar saya?. Apa Mas Yoga masih laper?” tanyanya. “Ga papa kok, saya g laper kok Mbak, saya Cuma pengen ngobrol sama kamu”. jawabku bimbang. “ohh mau ngobrol apa to Mas, sini saya temenin ngobrol kalo gitu” jawabnya. “ Iya sebenernya saya pengen minta tolong sama Mbak”. “ Minta tolong apa Mas? Saya pasti mau kalo saya emang bisa bantu Mas.” jawabnya. Aku berada di persimpangan untuk menyampaikan keinginanku kepadanya, tetapi aku pikir ga akan tahu hasilnya kalo g dicoba. Akhirnya aku pun memberanikan diri untuk mengatakan keinginanku kepadanya. “Jadi gini, Mbak Dewi kan kalo saya sering pergi ke pelacuran kalo nafsu lagi tinggi”. Dia nampak memperhatikan dengan serius setiap omongan yang keluar dari mulutku. “Terus kenapa Mas, saya kok masih belum ngerti”. jawabnya Wanita ini emang bener-bener masih polos, pikirku. “ Sekarang ini nafsu saya lagi tinggi Mbak, saya pengen minta tolong sama Mbak buat..buat..” aku masih ragu untuk mengungkapkannya. “Buat apa Mas?” tanyanya. Setelah pertanyaanku tadi aku pun berpikir sudah terlambat untuk mengurungkan niatku, hingga akhirnya aku mengatakan kepadanya tentang keinginanku. “ Saya pengen minta tolong Mbak buat ngocokin kontol saya” jawabku Dia nampak terkejut dengan permintaanku tersebut, dan kulihat mukanya lansung berubah antara malu dan sedikit marah. “Mas saya bukan wanita seperti itu, jadi Mas jangan coba-coba memaksa saya” jawabnya dengan sedikit membentak. “Saya ga maksa kok Mbak, saya cuma mau minta tolong ke Mbak, itu pun kalo Mbak mau, tapi kalo ga mau ya sudah. Nanti biar saya cari PSK saja kalo gitu”. Dia hanya terdiam mendengar jawabanku, aku juga tidak tahu apa yang dia pikirkan. Setelah itu akupun keluar dari kamarnya dengan sedikit membanting pintu. Ada perasaan menyesal setelah mengatakan keinginanku kepada Mbak Dewi, tetapi ya sudahlah semua itu sudah terlanjur. Aku kembali ke kamarku dengan perasaan tak menentu. Untuk mengusir suntukku aku pun menghisap rokok Sampoerna Mild kesukaanku sambil menikmati pemandangan di luar rumahku.. Di tengah kegundahanku tiba-tiba ada yang mengetok pintu kamarku, aku pun tahu kalo itu adalah Mbak Dewi. Dalam pikiranku mungkin dia mau minta berhenti menjadi pembantuku. Dengan malas aku pun menyuruhnya masuk. “Ada apa Mbak?” tanyaku saat dia berada di ambang pintu. “Mas, sebaiknya Mas jangan cari PSK, itu ndak baik Mas” jawabnya dan aku hanya diam sambil menghisap rokoku. “ Saya mau memenuhi permintaan mas tadi, tapi Mas harus janji jangan nyari PSK di luar” jawabnya sambil tertunduk malu. Aku pun secara refleks langsung menoleh ke arahnya, sesaat pandangan ku sempat bertemu dengan pendangannya. “Beneran kamu mau memenuhi permintaan saya tadi? Saya ga maksa kamu kok. “iya mas saya mau, tapi Cuma itu saja ya Mas, jangan keterusan. Setelah saya pikir-pikir Mas sudah banyak membantu saya dan keluarga dan saya ga mau Mas terus-terusan jajan PSK di luar”. Aku pun langsung menghampirinya dan memegang tangannya dan aku ajak dia ke arah tempat tidurku. Dia hanya menunduk dan tidak berani melihat ke arahku saat aku memegang tangannya, entah apa yang dia pikirkan. Tanpa pikir panjang akupun mulai melepas satu per satu pakaianku hingga aku hanya mengenakan CD. Dia nampak terkesima dengan tubuh atletisku dan tonjolan besar yang ada di selakangannku yang tidak mampu ditampung semuanya oleh CD kecilku hingga kepala penisku menyembul ke atas. Akupun lansung merebahkan diri di tempat tidur sementara dia masih duduk di tepi tempat tidurku. “Ayoo Mbak naik aja, kalo disitu kurang enak posisinya” dia pun naik ke atas ranjangku. “Mbak tolong bukain CD saya yaa!” perintahku sambil menuntun tangannya yang masih malu-malu untuk membuka CDku. Akhirnya dia menurunkan CD ku hingga melewati ujng kakiku lalu melipatnya dan meletakannya disamping tubuhku. Sungguh pemandangan yang indah menurutku dan membuat aku semakin bergairah karenanya. Dia pun mulai memegang penisku yang sudah ngaceng berat minta pelampiasan, dielus-elus penisku dengan lembut dari dari bawah hingga ujungnya. Ohh sungguh nikmat dan lembut sekali tangannya, pikirku dalam hati sambil memejamkan mata. Merupakan sensasi tersendiri dan pengalaman baru bagiku merasakan kocokan tangan pembantuku. “Mas saya takut, punyanya Mas gede banget” pujinya sambil tetap mengelus penisku. “Takut apa suka Mbak? candaku. “ Dulu punya suaminya g segede ini apa Mbak?” tanyaku. Dia nampak malu mendengar pertanyaanku tadi. Memang penisku termasuk berukuran besar,dengan diameter sekitar 4-5 cm dan panjang sampai 15 cm telah membuat banyak wanita bertekuk lutut dengan permainan seks ku. Dia mulai mengocok penisku secara perlahan dan kadang diselingi dengan gerakan memutar disekitar kepala dan ujung penisku membuatku semakin melayang. Nampaknya dia sudah mahir untuk urusan kocok mengkocok penis. Betapa bahagianya dulu suaminya,pikirku. Hanya desahan yang keluar dari mulutku. Setelah sekitar 20 menit penisku dikocoknya aku sudah hampir sampai di puncak kenikmatanku. “Mbak aku sudah mau keluar Mbak, teruuuus mbakk, ohhhh enaakk mbak, teruuus”. Dia hanya diam dan terus mengocok penisku, dan mengetahui aku sudah hampir keluar dia mengeluarkan jurus mautnya yaitu dengan mengeluarkan ludah pada tangannya dan dioleskan ke penisku. Mendapat perlakuan tersebut aku sudah tidak mampu menahan gejolak kenikmatan dalam diriku. Akhirnya tak lama kemudian tubuhku pun mengejang dan kaku disertai dengan keluarnya air mani dari penisku yang timpah di perutku dan sebagian mengenai tangan Mbak Dewi. Aku pun langsung lemas dan memejamkan setelah menyelesaikan sisa-sisa kenikmatanku. Sunggu aku pikir ini adalah kenikmatan yang spesial yang pernah aku rasakan,meskipun hanya melalui kocokan tangan pembantuku tetapi mampu memberikan sensasi yang luar biasa. Setelah selesai melakukan tugasnya aku lihat Mbak Dewi brjalan ke arah lemari yang ada di kamarku dan mengambils sebuah handuk kecil lalu dibasahinya handuk tersebut dengan air. Dia mengbersihkan sisa-sisa spermaku yang ada diperut dan penisku. Sungguh sensasi yang luar biasa diberikan oleh pembantuku yang satu ini. Setelah itu aku pun terlelap tidur dengan penuh kepuasan. Setelah kejadian malam itu aku pun menjadi semakin sering melakukan masturbasi bersama Mbak Dewi. Meskipun kadang dia enggan untuk melakukannya, tapi aku melihat pancaran kebahagian setiap kali dia memegang penisku. Bahkan kalau dia terlalu lelah mengocok penisku, tak jarang dia sampai tertidur di ranjangku dengan masih memeluk pinggangku. Kegiatan itupun berlanjut setiap malam entah sampai kapan. Bagitulah hubungan seksualku dengan pembantuku yang hot ini. TAMAT
cerita dewasa paling hot